Sabtu, 20 Desember 2014

TRIP On MAHAMERU Perjalanan Menggapai Puncak tertinggi Jawa



Mahameru 3676 meter diatas permukaan laut (mdpl) adalah satu tempat  yang tak banyak orang mampu menginjakkan kaki disana, ditempat tertinggi dipulau jawa, dan bagiku semua itu bagai sebuah mimpi disaat aku terjaga, ketika dengan mata telanjang menyaksikan sekelumit dari berjuta keindahan semesta indonesia..
Gerbang pendakian - Adventure has began

Cerita ini bermula ketika Gus Opan salah seorang sahabatku mengajak melakukan pendakian gunung semeru, rencana semula waktu pendakian adalah akhir bulan september, namun setelah tarik ulur waktu serta berbagai kendala tak terduga akhirnya ditetapkan tanggal 06 September 2014.
Sabtu 04 Oktober 2014 gema Takbir Idul Adha menjadi saksi perjalanan kami, tepatnya pukul 20.00 WIB disaat masjid-masjid dan musholla mengumandangkan takbir hari raya Idul Adha kami berempat: Aku, sepupuku Opick, Mahmud dan Syarif memacu sepeda motor dari kota Kudus, belum sampai 100 meter melaju salah satu ban motor kami bocor, Akhirnya hampir satu jam waktu kami disita oleh tukang tambal ban. Kira-kira pukul 21.00 barulah kami benar-benar melaju meninggalkan kota Kretek, Satu setengah jam perjalanan kami singgah sejenak dikota Lasem untuk menikmati secangkir Kopi lelet setelah sebelumnya kami sempatkan Ziarah ke makam Sayyid Abdurrahman Basyaiban, waktu telah menunjukkan pukul 23.00 kembali kami memacu dua motor kami dan ketika sampai diperbatasan antara Kabupaten Tuban dan Lamongan kami luangkan sedikit waktu kami untuk Sowan ke makam Masyayikh Pon-Pes Langitan, dari Langitan kami menuju kota Malang kira-kira pukul 02.00 WIB, dan adzan Shubuh berkumandang saat kami sampai di daerah Sukorejo Pasuruan, setelah menunaikan kewajiban kami langsung meluncur menuju kota Malang.
Pagi yang cerah mengawali hari yang penuh berkah, dari pasuruan sampai masuk perbatasan kabupaten Malang pemandangan yang indah tersaji dari gunung arjuno dengan iringan lantunan takbir, tahmid dan tasbih Subhanallah.. begitu sampai di Arjosari kami mencari masjid untuk ikut larut dalam euphoria hari raya serta melaksanakan Shalat Idul Adha. Sontak para jama’ah banyak dibuat terheran-heran oleh penampilan kami yang memasuki halaman Masjid dengan mengenakan jaket, tas carrier dan aksesori khas para pendaki dan kami pun langsung menjadi pusat perhatian. Setelah melaksanakan Shalat Idul Adha dengan diikuti khotbah yang kami dengarkan dengan Khidmat, Khusyuk serta Ngantuk kami lanjutkan menuju desa Sudimoro, Bululawang untuk memenuhi hasrat untuk beristirahat, tanpa ba-bi-bu langsung kami menuju rumah Cak Roni, tak selang lama menunggu seteguk kopi dan sesuap nasi pun langsung menghampiri dan mengantarkan kami dalam tidur yang pulas pagi itu, Alhamdulillah…
Bangun, makan siang kemudian kami melanjutkan episode ngopi bareng cak Roni yang tadi sempat tertunda oleh jeda iklan bantal dan guling (baca:tidur). Setelah hari menjelang sore kami menuju Dampit tempat dimana rumah gus Opan berada dan disana juga tempatnya Pondok PUNOKAWAN, sebuah kafe kecil tempatnya para petualang berkumpul dan berbagi cerita.
Pukul 23.00 kami berkumpul di pondok PUNOKAWAN sambil menunggu yang lain untuk melengkapi persyaratan dan logistic yang harus kami bawa dan tentunya tak lupa mencicipi kopi ijo punokawan sambil Nyethe, setelah semua perlengkapan siap, mulai dari tenda, Sleeping bag, Pakaian hangat, matras de el el.. kami  bertujuh anggota PUNOKAWAN Adventure yang terdiri dari empat orang Demak dan tiga dari DampitMalang yaitu bang Ferry W Prastyo, mas Katon Eko S. dan Gus Opan 'Saufan Sauri' siap melakukan Trip on MAHAMERU dengan diawali Do’a bersama, Bismillah kami menuju Ranu pani..

Balai Besar TNBTS - Masih Terlalu pagi
Ranu Pani
Pukul 02.30 WIB kami sampai didesa Ranu pani yang merupakan desa terakhir sebelum track pendakian gunung semeru, dan kami langsung menuju sebuah pondokan yang berada disebelah jalur Ayak-ayak yang ternyata adalah tempat yang biasa digunakan untuk evakuasi para pendaki, 
Hemmm.. Merinding juga nih jadinya, untungnya kami tak diberitahu sebelumnya kalo tempat tidur kami biasa digunakan untuk evakuasi jenazah, setelah menyeduh pop mie,  menuang kopi dan energen kami bersembunyi dalam pelukan jaket dan Sleeping bag, hawa dingin ranu pani yang saat itu mendekati nol derajat masih dapat kami rasakan menusuk persendian meski kami telah terbungkus rapat didalam sleeping bag. Adzan subuh berkumandang dan kami pun satu persatu mulai bangkit dari tidur kami untuk menunaikan dua rakaat pagi itu, pukul tujuh kami menuju pos pendaftaran dan ternyata kami terlalu pagi, Akhirnya kami temukan warung ditepi Danau ranu pani lalu menikmati teh panas dan segelas kopi untuk sedikit mengurangi hawa dingin dan sambil menunggu Pos pendaftaran yang baru akan dibuka jam 08.00 WIB

Petualangan dimulai
Gus Opan-Mas Katon-Gus Opick (sesaat di Watu Rejeng)
Setelah mengurus Simaksi dan cek semua persyaratan serta pelengkapan kami start dari Ranu pani kira-kira pukul 08.30 WIB, dari gerbang pendakian sampai Landengan dowo medan tidak terlalu berat, karena meski terus nanjak namun agak landai, dan satu-satunya kendala hanya masalah jarak yang lumayan jauh yang kerap menghentikan perjalanan kami untuk sekedar stabilisasi diafragma karena sudah ngos-ngosan, setelah kira-kira 3 kilo meter sampailah kami dipos I Landengan dowo, disini kami bertemu dengan penduduk setempat yang menjajakan berbagai macam gorengan dan semangka. Meskipun semua gorengan sudah Nampak layu entah karena factor usia atau memang karena dinginnya hawa disana kami pun tetap lahap menyantapnya. 
Setelah dirasa cukup dan stamina mulai terkumpul kami lanjutkan perjalanan menuju pos II yang berada diantara Landengan dowo dan Watu Rejeng, dari sini kita dapat menikmati pemandangan watu rejeng yang sangat indah berupa bukit dengan bebatuan yang terjal dan curam.
Gus Opan: ........."istirahat sek bro..!! ambekan sek"..........
Dari pos II menuju pos III disinilah kewaspadaan pendaki benar-benar harus diperhatikan, selain jalur yang berupa jalan setapak dan mudah longsor jalur yang tepat berada dibawah watu rejeng ini juga tepat berada ditepi jurang, setelah kira-kira empat kilo meter berjalan naik turun menyusuri watu rejeng sampailah kami di pos III, disini kami beristirahat lumayan lama Karena tepat diatas pos III medannya sangat terjal dan berupa jalan berdebu yang selalu siap mengganggu mata dan hidung kita, setelah cukup lama berjalan dan berkali-kali istirahat ambil nafas, perlahan jalan terjal yang berselimut kabut mulai surut dan tanpa kami sadari kami telah berada diatas Danau Ranu Kumbolo. Di pos empat, rasa penat yang sedari tadi menggeliat perlahan mulai tersapu seiring kabut yang mulai surut saat menyaksikan keindahan sang Maha Agung yang terdampar disela-sela gunung, Maha suci engkau wahai pencipta semesta…

Ranu kumbolo
Begitu sampai di Ranu kumbolo kami mendirikan tenda dan nge-camp disana semalaman, sementara yang lain menikmati keindahan panorama dan masak mie instan serta menyeduh kopi, saya memilih untuk bersembunyi dibalik tenda dalam dekapan sleeping bag, karena selain kondisi yang kurang fit sejak berangkat dari kudus rasa lelah dan lapar memaksa tubuh ini terkapar lemas dan tepar, 
Meski diatas gunung yang namanya Shalat tetep wajib...
hari menjelang maghrib aku bangun kemudian mengelabuhi cacing perut dengan mie instan lalu shalat dhuhur jama’ dengan shalat Ashar ditepi ranu kumbolo, tak selang berapa lama hari mulai gelap pertanda malam segera datang dengan diawali maghrib menyambut, dan masih ditempat yang sama Shalat Maghrib dan Isya’ kami tunaikan dalam kemelut kabut, hawa dingin sungguh sangat terasa dimalam itu, kopi jahe yang kami buat sedikit mengurangi hawa dingin, dan ternyata hawa dingin disana cukup memudahkan kami untuk membuat agar-agar, begitu air dengan bubuk agar-agar mendidih kami tuang dalam gelas tupper ware kami tutup kemudian kami celupkan kedalam air ranu kumbolo dan seketika itu pula air mengental lalu berubah menjadi agar-agar kenyal. Acara “Kopi Gunung” kami lanjutkan kembali sebelum rintik-rintik hujan memaksa kami harus sembunyi dibalik tenda sampai fajar menyingsing.

tim PUNOKAWAN siap menggapai puncak Mahameru

Setelah Shubuh Chef Mahmud mulai masak untuk asupan energy sebelum berangkat menuju Kalimati, Mie instan dan Nasi Kriuk (baca : Setengah matang bukan Rice crispy ya..!! ) mengantarkan perjalanan kami untuk mendaki ‘Tanjakan Cinta’ dan menyusuri ‘Oro-oro ombo’ hingga cemoro kandang, dari cemoro kandang menuju ‘Jambangan’ disinilah banyak cerita tentang modus-modusan, apalagi gus Opan yang melihat raut wajah Opick yang mulai pucat, Hemm.. pasti langsung jadi kesempatan untuk minta break “…..opick lek koen wes pegel ojo dipekso..! istirahat ae.. mengko tak kancani….” Entah itu karena tingginya rasa Solidaritas atau hanya sekedar Modusitas untuk menutup-nutupi rasa capek Wallahu A’lam, yang jelas makin seru perjalanan kami kali ini, apalagi saat kami sampai dijambangan. Karena dari jambangan kita sudah dapat melihat dengan jelas sang ‘Mahameru’ yang berdiri kokoh menjulang menyapa langit.

to be Continue.. InsyaAllah
Our team : Huda Eljaqoly, Katon, Ovan, Ferry, Syarif, Mahmud dan Ofick - Pose di Kalimati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar