Apakah itu GRC dan kegunaannya?
GRC (Glassfibre Reinforced Concrete) adalah dikenal juga sebagai
material komposit (campuran beton dan serat kaca). Penyusun GRC antara
lain semen, air, agregrat halus, pencampuran kimia dan glassfibres tahan
alkali.
Bisa dibentuk menjadi berbagai macam kebutuhan mulai dari kubah, ornamen, dinding berlubang, dan sebagainya.
Produk yang dihasilkan dari industri GRC biasanya memiliki karakteristik
antara lain memiliki kekuatan yang tinggi, ringan serta bentuk dan
ukurannya bisa fleksibel.
Kami SG GRC yang beralamat di Jl. Pahlawan No.60 Asempapak Sidayu Gresik melayani jasa pembuatan krawangan GRC dengan ukuran dan motif menurut keinginan anda, dan tentu dengan harga yang terjangkau. jika anda berminat silahkan kontak kami : +6281225586861 +62816672291 (Call/SMS/WA)
sandal ghosob
Senin, 17 Desember 2018
Rabu, 24 Oktober 2018
TAUHID DAN BENDERA YANG DIBAKAR
Dua hari sebelum peristiwa pembakaran bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid di Garut, saya berada di Pesantren At Taufiqi di Wonopringgo, Pekalongan, Jawa Tengah. Duduk menghadap Romo Kiai Taufiq, saya diterima di masjid tepat seusai adzan Dhuhur. Mursyid sejumlah thariqat mu'tabarah di Indonesia ini membimbing saya mengucap "laa ilaaha illa 'l-laah". "Laa ilaaha, tiada Tuhan, itu nafi', penyangkalan. Illa 'l-laah, selain Allah, itu isbat, penerimaan," bisik kiai.
Tak hanya tentang bagaimana kalimat tauhid itu diucapkan, namun juga tentang bagaimana agar "laa ilaaha illa 'l-laah" membakar Fir'aun di dada kita. Diakui atau tidak, tuhan-tuhan kecil terus saja bermunculan dalam diri manusia. Tak lantas tersadar ketika menyebut nama Tuhannya, tapi justru semakin jumawa dan berani berperan laksana tuhan. "Jangan lisan saja, gunakan pula hatimu untuk berzikir," pesan Romo Kiai Taufiq seraya menunjukkan letak lathifatu 'l-qalbi.
Masih pada hari yang sama, dua hari sebelum polemik apakah yang dibakar oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) itu bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau bukan, saya juga mendapat anugerah luar biasa. Yaitu, dapat duduk di sisi Habib Luthfy bin Yahya, Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) di kediamannya, Pekalongan. Habib Lutfhy menerima banyak sekali tamu beserta aneka keperluan mereka.
Di sela-sela itu, ia menjelaskan tentang tiga hal utama dalam kehidupan seorang muslim dengan mengutip Q.S. Al Baqarah ayat 3. Pertama, pembangunan ideologi ketuhanan dalam pemahaman beragama. Kedua, pembangunan kesadaran manusia seutuhnya sebagai hamba Tuhan. Ketiga, pembangunan hubungan yang harmonis antarsesama manusia untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. "Jangan sampai kita memekikkan takbir Allahu Akbar tanpa menyadari makna Allahu Akbar," serunya.
Habib Lutfhy bertanya, "Allahu Akbar itu apa artinya?" Saya seketika menjawab, "Allah Maha Besar." Yang mengejutkan, ia menimpali, "Bagaimana dengan kamu?" Kali ini saya tak mampu langsung bicara. Habib Luthfy justru menjawabkannya untuk saya. "Jika memang Allahu Akbar itu Allah Maha Besar, seharusnya kita langsung tersadar betapa kita ini maha kecil. Sangat kecil bagi Allah! Jangan bertakbir tapi malah mengacungkan kayu, memecah kaca, memukul apa saja!"
Saya tertunduk, malu. Betapa sering diri ini diam-diam atau bahkan terang-terangan menuhankan diri sendiri, suka merasa lebih segala-galanya daripada orang lain; terutama merasa lebih benar. Inilah yang oleh Habib Luthfy dimaksud dengan disebut pembangunan ideologi ketuhanan dalam pemahaman beragama. Dan, betapa lemahnya kita di level satu ini. Betapa ringkih fondasi kita. Padahal, beriman pada Allah Yang Maha Gaib seharusnya semakin menegaskan betapa banyak hal yang kita tak tahu.
Saya memang ingin bertanya satu hal saja pada siapa pun yang merasa paling tahu atau banyak tahu. Pertanyaan sederhana: apa yang Anda tidak tahu? Sebab, saya semakin yakin bahwa sebanyak-banyak yang kita tahu masih lebih banyak yang kita tidak tahu. Terlebih dalam urusan bagaimana Allah mengatur alam semesta, memilih siapa yang berhak menerima hidayah-Nya, siapa yang benar, siapa yang masuk surga, dan sebagainya. Tapi, saya akan mulai dari bertanya pada diri sendiri.
Mawas diri memang urusan paling pelik. Tidak setiap orang mau melakukannya, apalagi jika sudah menyangkut urusan politik; baik politik kekuasaan maupun politik kebenaran. Dan, agama semakin populer dijadikan tunggangan hawa nafsu. Padahal, bukankah barangsiapa mencari pembenaran, niscaya ia tidak akan menemukan kebenaran? Konflik horisontal seperti dijadikan piaraan oleh tuan dan puan yang punya hobi mahal. Dan, rakyat lagi yang diperdayai.
Pada hari ketika kain hitam bertuliskan kalimat tauhid itu diturunkan dari kibaran, di tengah-tengah lautan manusia yang memperingati Hari Santri Nasional (HSN) keempat pada tahun 2018, saya dalam perjalanan dari Solo ke Magelang. Saya menerima dhawuh, atau perintah, dari kkiai muda yang sangat saya hormati, yaitu KH Yusuf Chudlory, untuk menghibur santri-santri di Pesantren Syubbanul Wathon yang baru dua tahun berdiri. Juga dalam rangka memuncaki peringatan HSN.
Obrolan kami mengarah pada tema yang berbeda ketika masing-masing dari kami menerima pesan pendek yang kurang lebih sama. Yaitu, tentang insiden Garut. Gus Yusuf berkata, "Saya setuju dengan uraian Gus Muwaffiq bahwa kita tidak memiliki masalah dengan laa ilaaha illa 'l-laah. Itu kalimat tauhid yang suci. Tiap hari kita baca dalam tahlil. Tapi, ketika laa ilaaha illa 'l-laah dijadikan alat politik, itu tidak lagi sesuai dengan kesucian kalimat tauhid dan menjadikannya bermasalah."
Sebagaimana pula dalam kasus palu-arit yang dijadikan lambang Partai Komunis Indonesia (PKI), Gus Yusuf menegaskan tidak punya masalah dengan palu dan arit ketika difungsikan sesuai peruntukannya. "Palu itu alat kerja untuk menumbuk dan arit itu alat kerja untuk menyabit. Namun, jika palu dan arit disatukan dan dijadikan alat politik, dalam hal ini lambang PKI, itu jadi masalah," terangnya. Oleh karena itu, Gus Yusuf menyesalkan aksi provokasi di dalam kegiatan peringatan HSN di Garut.
Belum jelas betul apakah bendera yang dikibarkan itu bendera tauhid dan apakah yang kemudian dibakar itu bendera HTI. Yang jelas, sesungguhnya tauhid tidak memerlukan bendera untuk berkibar. Ia hidup dalam setiap diri yang mengimani tiada tuhan selain Allah. Dan, keimanan kita itu tidak membutuhkan pengakuan sesama makhluk Allah. "Jika umat tidak mengakui kerasulanmu, Muhammad SAW, Akulah yang mengakuimu," kata Habib Luthfy menyitir Q.S. Yasin ayat 3.
Hanya saja, salah satu cara manusia bertahan hidup adalah dengan mencari, bahkan merebut, pengakuan manusia lainnya. Tanpa pengakuan, ia tidak bisa mengada. Walaupun harus dengan mengada-ada, itu dianggap lebih baik daripada meniada, daripada apa adanya yang kemudian justru tergeser dan kalah dalam persaingan hidup. Eksistensi diri pribadi dan kelompoknya menjadi amat penting. Lihatlah betapa pembubaran HTI belum benar-benar memadamkan api.
Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini masih satu pekan dengan Hari Sumpah Pemuda yang memasuki usia penting, yaitu 90 tahun. Pada 28 Oktober 1908, pemuda-pemudi Indonesia mengikrarkan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Pun telah jauh perjalanan anak bangsa ini hingga sampai pada penetapan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan asas tunggal. Enam agama telah diakui negara, plus pengakuan terhadap aliran kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kebenaran tidak monopoli satu agama. Mensyirikkan upacara adat karena dianggap tidak sesuai dengan syariat dirasa juga memperkeruh suasana persaudaraan antarsesama anak bangsa. Soal itu belum selesai, kini muncul soal bendera. Begini saja, jika para pendahulu telah melahirkan Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda II, yang tidak pernah disebut sebagai kongres pemuda terakhir, mari kita adakan Kongres Pemuda III.
Candra Malik budayawan sufi
Sabtu, 20 Desember 2014
TRIP On MAHAMERU Perjalanan Menggapai Puncak tertinggi Jawa
Mahameru 3676 meter diatas permukaan laut (mdpl) adalah satu
tempat yang tak banyak orang mampu menginjakkan kaki disana, ditempat tertinggi dipulau
jawa, dan bagiku semua itu bagai sebuah mimpi disaat aku terjaga, ketika
dengan mata telanjang menyaksikan sekelumit dari berjuta keindahan semesta
indonesia..
![]() |
| Gerbang pendakian - Adventure has began |
Cerita ini bermula ketika Gus Opan salah seorang sahabatku
mengajak melakukan pendakian gunung semeru, rencana semula waktu pendakian
adalah akhir bulan september, namun setelah tarik ulur waktu serta berbagai
kendala tak terduga akhirnya ditetapkan tanggal 06 September 2014.
Sabtu 04 Oktober 2014 gema Takbir Idul Adha menjadi saksi
perjalanan kami, tepatnya pukul 20.00 WIB disaat masjid-masjid dan musholla
mengumandangkan takbir hari raya Idul Adha kami berempat: Aku, sepupuku Opick,
Mahmud dan Syarif memacu sepeda motor dari kota Kudus, belum sampai 100 meter
melaju salah satu ban motor kami bocor, Akhirnya hampir satu jam waktu kami
disita oleh tukang tambal ban. Kira-kira pukul 21.00 barulah kami benar-benar
melaju meninggalkan kota Kretek, Satu setengah jam perjalanan kami singgah
sejenak dikota Lasem untuk menikmati secangkir Kopi lelet setelah sebelumnya
kami sempatkan Ziarah ke makam Sayyid Abdurrahman Basyaiban, waktu telah
menunjukkan pukul 23.00 kembali kami memacu dua motor kami dan ketika sampai
diperbatasan antara Kabupaten Tuban dan Lamongan kami luangkan sedikit waktu
kami untuk Sowan ke makam Masyayikh Pon-Pes Langitan, dari Langitan kami menuju
kota Malang kira-kira pukul 02.00 WIB, dan adzan Shubuh berkumandang saat kami
sampai di daerah Sukorejo Pasuruan, setelah menunaikan kewajiban kami langsung
meluncur menuju kota Malang.
Pagi yang cerah mengawali hari yang penuh berkah, dari
pasuruan sampai masuk perbatasan kabupaten Malang pemandangan yang indah
tersaji dari gunung arjuno dengan iringan lantunan takbir, tahmid dan tasbih
Subhanallah.. begitu sampai di Arjosari kami mencari masjid untuk ikut larut
dalam euphoria hari raya serta melaksanakan Shalat Idul Adha. Sontak para
jama’ah banyak dibuat terheran-heran oleh penampilan kami yang memasuki halaman
Masjid dengan mengenakan jaket, tas carrier dan aksesori khas para pendaki dan
kami pun langsung menjadi pusat perhatian. Setelah melaksanakan Shalat Idul
Adha dengan diikuti khotbah yang kami dengarkan dengan Khidmat, Khusyuk serta
Ngantuk kami lanjutkan menuju desa Sudimoro, Bululawang untuk memenuhi hasrat
untuk beristirahat, tanpa ba-bi-bu langsung kami menuju rumah Cak Roni, tak
selang lama menunggu seteguk kopi dan sesuap nasi pun langsung menghampiri dan
mengantarkan kami dalam tidur yang pulas pagi itu, Alhamdulillah…
Bangun, makan siang kemudian kami melanjutkan episode ngopi
bareng cak Roni yang tadi sempat tertunda oleh jeda iklan bantal dan guling
(baca:tidur). Setelah hari menjelang sore kami menuju Dampit tempat dimana rumah
gus Opan berada dan disana juga tempatnya Pondok PUNOKAWAN, sebuah kafe kecil
tempatnya para petualang berkumpul dan berbagi cerita.
Pukul 23.00 kami berkumpul di pondok PUNOKAWAN sambil
menunggu yang lain untuk melengkapi persyaratan dan logistic yang harus kami
bawa dan tentunya tak lupa mencicipi kopi ijo punokawan sambil Nyethe, setelah
semua perlengkapan siap, mulai dari tenda, Sleeping bag, Pakaian hangat, matras
de el el.. kami bertujuh anggota
PUNOKAWAN Adventure yang terdiri dari empat orang Demak dan tiga dari DampitMalang yaitu bang Ferry W Prastyo, mas Katon Eko S. dan Gus Opan 'Saufan Sauri' siap melakukan Trip on MAHAMERU dengan diawali Do’a bersama, Bismillah
kami menuju Ranu pani..
![]() |
| Balai Besar TNBTS - Masih Terlalu pagi |
Ranu Pani
Pukul 02.30 WIB kami sampai didesa Ranu pani yang merupakan
desa terakhir sebelum track pendakian gunung semeru, dan kami langsung menuju
sebuah pondokan yang berada disebelah jalur Ayak-ayak yang ternyata adalah
tempat yang biasa digunakan untuk evakuasi para pendaki,
Hemmm.. Merinding juga
nih jadinya, untungnya kami tak diberitahu sebelumnya kalo tempat tidur kami
biasa digunakan untuk evakuasi jenazah, setelah menyeduh pop mie, menuang kopi dan energen kami bersembunyi
dalam pelukan jaket dan Sleeping bag, hawa dingin ranu pani yang saat itu
mendekati nol derajat masih dapat kami rasakan menusuk persendian meski kami
telah terbungkus rapat didalam sleeping bag. Adzan subuh berkumandang dan kami
pun satu persatu mulai bangkit dari tidur kami untuk menunaikan dua rakaat pagi
itu, pukul tujuh kami menuju pos pendaftaran dan ternyata kami terlalu pagi,
Akhirnya kami temukan warung ditepi Danau ranu pani lalu menikmati teh panas
dan segelas kopi untuk sedikit mengurangi hawa dingin dan sambil menunggu Pos
pendaftaran yang baru akan dibuka jam 08.00 WIB
Petualangan dimulai
![]() |
| Gus Opan-Mas Katon-Gus Opick (sesaat di Watu Rejeng) |
Setelah mengurus Simaksi dan cek semua persyaratan serta
pelengkapan kami start dari Ranu pani kira-kira pukul 08.30 WIB, dari gerbang
pendakian sampai Landengan dowo medan tidak terlalu berat, karena meski terus
nanjak namun agak landai, dan satu-satunya kendala hanya masalah jarak yang
lumayan jauh yang kerap menghentikan perjalanan kami untuk sekedar stabilisasi
diafragma karena sudah ngos-ngosan, setelah kira-kira 3 kilo meter sampailah
kami dipos I Landengan dowo, disini kami bertemu dengan penduduk setempat yang
menjajakan berbagai macam gorengan dan semangka. Meskipun semua gorengan sudah
Nampak layu entah karena factor usia atau memang karena dinginnya hawa disana
kami pun tetap lahap menyantapnya.
Setelah dirasa cukup dan stamina mulai
terkumpul kami lanjutkan perjalanan menuju pos II yang berada diantara
Landengan dowo dan Watu Rejeng, dari sini kita dapat menikmati pemandangan watu
rejeng yang sangat indah berupa bukit dengan bebatuan yang terjal dan curam.![]() |
| Gus Opan: ........."istirahat sek bro..!! ambekan sek".......... |
Ranu kumbolo
Begitu sampai di Ranu kumbolo kami mendirikan tenda dan
nge-camp disana semalaman, sementara yang lain menikmati keindahan panorama dan
masak mie instan serta menyeduh kopi, saya memilih untuk bersembunyi dibalik
tenda dalam dekapan sleeping bag, karena selain kondisi yang kurang fit sejak
berangkat dari kudus rasa lelah dan lapar memaksa tubuh ini terkapar lemas dan
tepar,
![]() |
| Meski diatas gunung yang namanya Shalat tetep wajib... |
![]() | |
| tim PUNOKAWAN siap menggapai puncak Mahameru |
Setelah Shubuh Chef Mahmud mulai masak
untuk asupan energy sebelum berangkat menuju Kalimati, Mie instan dan Nasi
Kriuk (baca : Setengah matang bukan Rice crispy ya..!! ) mengantarkan
perjalanan kami untuk mendaki ‘Tanjakan Cinta’ dan menyusuri ‘Oro-oro ombo’
hingga cemoro kandang, dari cemoro kandang menuju ‘Jambangan’ disinilah banyak
cerita tentang modus-modusan, apalagi gus Opan yang melihat raut wajah Opick
yang mulai pucat, Hemm.. pasti langsung jadi kesempatan untuk minta break
“…..opick lek koen wes pegel ojo dipekso..! istirahat ae.. mengko tak kancani….”
Entah itu karena tingginya rasa Solidaritas atau hanya sekedar Modusitas untuk
menutup-nutupi rasa capek Wallahu A’lam, yang jelas makin seru perjalanan kami
kali ini, apalagi saat kami sampai dijambangan. Karena dari jambangan kita
sudah dapat melihat dengan jelas sang ‘Mahameru’ yang berdiri kokoh menjulang
menyapa langit.
to be Continue.. InsyaAllah
![]() |
| Our team : Huda Eljaqoly, Katon, Ovan, Ferry, Syarif, Mahmud dan Ofick - Pose di Kalimati |
Kamis, 13 November 2014
Touring Bromo 2014
Sekilas tentang Gunung Bromo
Gunung bromo terletak di kawasan Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru (TNBTS) atau berada di antara tiga kabupaten
yaitu: Malang, Pasuruan dan Probolinggo.
Akses untuk bisa sampai ke gunung Bromo bisa ditempuh dari tiga
kabupaten tersebut, dari jalur Malang bisa ditempuh dari daerah tumpang, untuk
jalur Pasuruan dari daerah Tosari-Penanjakan dan untuk jalur Probolinggo bisa
ditempuh dari daerah Tongas-Cemoro Lanang.
Penduduk asli
pegunungan Bromo disebut suku tengger yang konon
pada jaman dahulu kala ketika kerajaan majapahit mengalami serangan dari
berbagai daerah penduduk pribumi kebingungan untuk mencari tempat tinggal
hingga pada akhirnya mereka terpisah menjadi 2 bagian yang pertama menuju ke
gunung Bromo, kedua menuju Bali. Ke 2 tempat ini sampai sekarang mempunyai 2
kesamaan yaitu sama – sama menganut kepercayaan beragama Hindu. Disebut suku
Tengger di kawasan
Gunung Bromo, Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng
juga Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger itu. “Teng”
akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger” dan
Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai
Gunung Brahma. orang Jawa kemudian menyebutnya Gunung Bromo.
![]() |
| Bromo dengan background gunung Semeru |
Kudus-Bromo
Rencana touring Kudus-Bromo memang telah kami rencanakan jauh hari
sebelum liburan Sekolah dan akhirnya pada tanggal 24 Juni 2014 baru
terealisasi, tepatnya sehari setelah Ziarah+Rekreasi ke Pamijahan dan Jakarta.
Rasa lelah setelah perjalanan selama empat hari belum sepenuhnya terobati
dengan waktu istirahat yang lumayan singkat, kemudian kami berangkat untuk melanjutkan
ziarah ke makam –makam Auliya di daerah jawa tengah dan jawa timur yang belum
sempat kami ziarahi dengan berkendara sepeda motor yang kemudian kami teruskan
ke Bromo.
Hari pertama
Tepatnya pukul 01.00 dinihari perjalan dimulai, Start dari kudus
sepuluh anggota “TOUR de BROMO” yaitu : Inul, Ayus, Arul, Ryan, Ni’am, Arafat,
Munif, Wafa, Mada dan tentunya Saya sendiri ‘Kang Miftah’ mengendarai lima
sepeda motor beriringan hingga sampai ke Makam Mbah Sambu (Sayyid Abdurrahman
Basyaiban) Lasem tepat pukul 02.30WIB. Setelah ziarah dan bertawassul ke makam
Mbah Sambu dan para Masyayikh yang disemayamkan disekitar makam mbah sambu
diantaranya adalah Kyainya para Kyai Yaitu simbah Kyai Ma’shum sampai kira-kira
jam 04.00WIB kami melanjutkan perjalanan ke Kota Tuban dan Shalat Shubuh
didaerah Jenu, lalu dilanjutkan dengan acara Ziarah ke Makam Sunan Bonang
(Syeikh Makhdum Ibrahim) dan sejenak melepas penat yang menggeliat dimasjid
Agung Tuban sampai kira-kira jam setengah delapan kami cabut dari Alun-alun
Tuban menuju Paciran-Lamongan.
![]() | |
| Masjid Agung Tuban-setelah ziarah Sunang Bonang |
09.00WIB kami tiba didaerah Paciran Lamongan tepatnya di Makam
Sunan Drajat (R. Qosim), Kami tidak Langsung Ziarah ke makam Beliau karena
Cacing-cacing diperut Ni’am dan Riyan sudah mulai melakukan demo, ditambah lagi
mata kami semua sudah mulai meredup hingga 2,5watt saja yang tersisa, mau tidak
mau Kami harus memenuhi tuntutan-tuntutan cacing perut yang sudah mulai ribut,
Sarapan itulah tuntutan mereka.. kenyang itu yang kami rasa, dan yang paling
akrab dengan kenyang selain ngantuk adalah tidur, apalagi setelah delapan jam perjalanan dan akhirnya
diputuskan untuk memejamkamkan telinga, ups.. pejamkan mata maksudnya, hingga
waktu dhuhur masuk satu persatu dari kami bangkit dari pusara masing-masing (hehee..) Ziarah pun kami laksanakan dengan khidmat dan
Khusyuk (atau mungkin ngantuk) dilanjutkan dengan shalat dhuhur+ dan kami pun
siap kembali berpacu dari Lamongan menuju Kota Gresik. Menuju Makam Sunan Giri
didaerah Kebomas Kota Gresik kami menempuh jalur Solokuro-Sukodadi dan begitu
memasuki Kota Lamongan Kami terjebak dalam kemacetan yang lumayan padat merayap
dan ada sedikit insiden yang membuat kami sempat melakukan senam jantung yaitu
saat sepeda motor yang dikendarai Arul dan Riyan tergelincir diperlintasan
kereta, namun Alhamdulillah tidak sampai terjadi apa yang tidak kami harapkan
dan tiba dimakam Sunan Giri dengan selamat tepat pukul 16.00WIB,
mengingat waktu yang sudah mulai menyambut petang Ziarah Sunan Maulana Malik
Ibrahim dan Sunan Ampel kami jamak dimakam Sunan Giri dan kira-kira
pukul 17.15WIB kami berangkat menyusuri Surabaya-Sidoarjo-Pasuruan, dan begitu
sampai di Pandaan kami memutuskan untuk mampir ke rumah neneknya Ainul yang
berada di daerah Keraton Pasuruan sekalian cari makan GRATIS serta istirahat
sejenak, tepat pukul 20.00WIB kami sampai dikediaman sang nenek dan dapat
dipastikan teh hangat mengalir ditenggorokan kami dan Nasi pecel dengan telor
ceplok kami sapu bersih karena semua pasti hafal diluar kepala dengan motto
kami “Kebersihan Sebagian dari Iman”. (Hemmm.. jadi kelihatan nich kalo
udah kenyang, dalilnya begitu lantang…) Penyakit Gawan Bayi (bawaan
dari bayi) yang mengidap sebagian besar dari kami satu persatu mulai kambuh, begitu
kenyang ngantuk pun datang. Dimulai dari Riyan yang terkapar diteras
disusul Munif yang tak berdaya diatas Sofa dan akhirnya semua melayang
meninggalkan Alam sadarnya hanya tersisa saya yang masih terjaga karena Asyik
bercengkrama dengan Budhenya si Ainul, rencana semula kami akan bertolak dari
pasuruan menuju Malang jam 23.00WIB namun lelah yang telah begitu dominan
Akhirnya saya pun ikut menyusul ke alam mimpi dan begitu bangun ternyata waktu
sudah menunjukkan 03.30 dinihari, dan kami baru ingat ternyata belum shalat
Maghrib dan Isya’. Bergegas kami menunaikan Shalat setengah jam sebelum adzan
Shubuh berkumandang.
Hari kedua
Selepas Shubuh seraya menunggu sarapan disiapkan kami bersiap-siap
untuk kembali memacu Motor-motor kami menuju Bromo, Meskipun ini
perjalananku menuju bromo untuk yang kedua kalinya namun lewat jalur pasuruan
tetaplah kali pertama bagi saya, karena perjalanan yang pertama pada saat tahun
baru 2012 via jalur malang-tumpang, jadi tiada sedikitpun rasa bosan hinggap
walau sekejap dalam benakku.
![]() |
| kawasan Tosari-Pasuruan |
Dari Keraton tepat jam 06.00 kami melaju dengan
kecepatan antara 60-70km/jam lewat Pasar dowo dan tak kurang dari dua jam kami telah sampai
di Tosari gerbang masuk TNBTS jalur Pasuruan, dan kami sedikit terkejut
dengan tarif masuk yang lumayan Mahal, karena setahu saya tarif HTM taman
Nasional Bromo Tengger Semeru tidak lebih dari Rp.10.000/Orang dan ternyata
memang berlaku sejak 14 Februari 2014 HTM ke TNBTS naik menjadi Rp.
27.500/Orang dan motor Rp.5000/sekali masuk, jadi total biaya yang harus kami
keluarkan untuk sepuluh orang dan lima sepeda motor harusnya Rp.300.000, namun
untung ditengah perjalanan ada penduduk setempat yang berbaik hati mau menolong
kami untuk bernegosiasi dengan penjaga pos pemantau dan kami disuruh mengaku
keponakannya, dan setelah negosiasi yang lumayan lama kira-kira 10 menit
akhirnya disepakati total HTM Rp.150.000, disepanjang perjalanan di Tosari
sampai ke Penanjakan tiada henti-hentinya mata kami disuguhkan pemandangan yang
membuat mata kami enggan untuk sekedar mengedipkan mata, udara yang begitu
sejuk dan kanan kiri terlihat keindahan panorama yang membiaskan indahnya sang
pencipta, awan yang bergulung laksana ombak seolah-olah nampak berada dibawah
dibawah kami. Subhanallah.. Alhamdulillah.. Allahu akbar.. tiada henti-henti
kami mengagumi dengan lantunan dzikir didalam hati, tepat dipersimpangan antara
jalur menuju lautan pasir dan penanjakan kami berhenti untuk membeli kaos
tangan karena hawa dingin mulai terasa menusuk hingga ke sum-sum tulang, dan
pemandangan gunung bathok yang tepat berada disebelah kawah bromo mulai Nampak,
dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan kami semua mengabadikan momen dengan view
background Gunung bathok dan Bromo dan tampak berdiri kokoh
dibelakangnya puncak tertinggi tanah jawa sang Mahameru.
![]() |
| Pose dulu di Penanjakan sebelum View Point |
sebelum sampai di view point kami sejenak mampir di Mushala dengan
taman yang begitu asri dan menyempatkan diri untuk ber-selfie dengan Background
lautan awan yang sangat menawan dan pegunungan kota Batu dan Gunung Arjuno
yang Nampak dari kejauhan, tak selang beberapa lama kami melanjutkan naik ke
penanjakan tepatnya di view point, dan dari view point kami dapat memanjakan
mata dengan eloknya pemandangan gunung-gunung yang mengelilingi lautan pasir,
ditengah-tengah berdiri dengan sangat megahnya gunung bathok dan kawah bromo
serta rumah-rumah yang Nampak berjajar rapi disekitar cemoro lanang.
![]() |
| Mushalla Mandiri-sebelum View Point |
Meskipun
satu jam lebih kami berada di view point penanjakan belum juga kami terpuaskan
akan keindahan alam yang tersajikan.
![]() |
| Suasana view point-Penanjakan |
Keterbatasan waktu memaksa kami harus meninggalkan penanjakan
sebelum terpuaskan untuk menuju ke kawah Bromo, turun menuju kawah bromo kami
melintasi jalan beraspal yang sangat curam dengan kemiringan hampir mencapai 80
derajat, dan melintasi Lautan pasir yang kerap kali membuat ban motor kami slip
dan hampir tergelincir, selama hampir 30 menit akhirnya kami sampai dikaki
gunung bromo.
![]() |
| Kaki gunung Bromo dengan background view gunung Batok |
Dikaki gunung Bromo kita dapat melihat parkiran Jeep yang berjejer
dan persewaan kuda yang berada didekat Pura Luhur poten, setelah memarkir
kendaraan selangkah demi selangkah kami menapaki anak tangga yang akan mengantarkan
kami menuju kawah bromo, aroma kawah yang khas dengan belerangnya begitu
menyengat rongga hidung, masker kembali terpasang dan sampailah kami diatas
gunung bromo dan langsung menyaksikan kawah yang masih aktif dan terus
mengeluarkan asap, cukup lama kami berada diatas puncak bromo untuk mengambil
gambar dan kami sempat bertemu dengan turis dari Malaysia dan juga ada yang
dari eropa.
![]() |
| Bersama Turis Malaysia dan Eropa |
Setelah dirasa cukup puas kami turun lalu pulang menyusuri Lautan
pasir, pasir berbisik dan bukit Savana yang banyak orang menyebut ‘Bukit
Teletubbies’ karena memang bukit-bukit yang indah tersebut sangat mirip dengan
background film anak-anak yang diperankan oleh Tinky winky, Dipsy, Lala dan Poo
tersebut. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan semua hape kembali diaktifkan untuk
pengambilan gambar dan tak ketinggalan pula inul dan niam berpose ala
tinky-winky:“berpelukaaaaaaan….”
![]() |
| Terimalah cintaku mblo....!!! Hahaaa.. |
Waktu telah beranjak senja, memaksa kami harus segera mencari
tempat untuk merebah dan bermanja, menghimpun kembali seluruh tenaga, dan
akhirnya kami semua mampir ke salah satu teman didaerah Bululawang Malang
sebelum akhirnya kami kembali ke kudus pada keesokan hari.
![]() |
| Savana-Teletubbies Hills |
Hari ketiga
Sudimoro kecamatan Bululawang Kab. Malang tempat kami singgah dan
menjajah rumah salah satu teman kami cak Roni, ruang tamu penuh dan kami melebar hingga
ke teras, selepas makan malam kami kembali terbang dalam mimpi indah, tidur
pulas karena dekapan rasa lelah, tiada kami hiraukan guyuran hujan yang mebuat
kami basah, kami tetap lelap dalam mimpi malam itu. Hingga subuh datang dan masing-masing
dari kami bangkit menunaikan ibadah.
Kopi mengawali cerita pagi ketiga, kemudian episode dilanjut
dengan sarapan, sebelum kami melanjutkan perjalanan pulang. Tepat jam 09.30WIB
kami beranjak menuju Kota batu dan singgah ke pemandian air hangat Cangar dan
berada diperbatasan Malang-mojokerto hingga waktu menunjukkan pukul 16.00 kami
lanjutkan menuju salah satu rumah teman kami Zufar yang berada di kota Lamongan,
ditengah perjalanan masih disekitar Cangar Arafat yang waktu itu berboncengan
dengan Ayus tiba-tiba nyungsep diantara semak-semak, dan untungnya tidak banyak
kendaraan yang berlalu-lalang dan tidak jatuh ke aspal, sehingga tidak begitu
parah dan Cuma lecet-lecet yang tidak begitu menghambat perjalanan kami
menyusuri hutan-hutan daerah pacet Mojokerto hingga sampailah kami di Lamongan
pukul 19.00 dan acara dilanjutkan dengan Halaqoh Qohwiyah di Langgar Panggung
sampai pukul 22.00 dan dilanjutkan menuju Bojonegoro menghampiri Kahyangan Api
untuk Acara Bakar-bakar Ayam yang sebelumnya sudah disiapkan oleh mbah Khotib. Dari
kahyangan api kami kembali ke kediaman mbah Khotib sudah hampir subuh, dan
setelah subuh kami tidur untuk memulihkan tenaga lalu Sarapan agak siang dan
pamit menuju kudus melalui jalur Bojonegoro-jatirogo-Pamotan-Lasem dan
sampailah kami dikudus sekitar pukul 13.30WIB.
Terimakasih buat semua anggota team Dete on Vacations 2014
Matur suwun juga buat
Langganan:
Postingan (Atom)





















