Sabtu, 20 Desember 2014

TRIP On MAHAMERU Perjalanan Menggapai Puncak tertinggi Jawa



Mahameru 3676 meter diatas permukaan laut (mdpl) adalah satu tempat  yang tak banyak orang mampu menginjakkan kaki disana, ditempat tertinggi dipulau jawa, dan bagiku semua itu bagai sebuah mimpi disaat aku terjaga, ketika dengan mata telanjang menyaksikan sekelumit dari berjuta keindahan semesta indonesia..
Gerbang pendakian - Adventure has began

Cerita ini bermula ketika Gus Opan salah seorang sahabatku mengajak melakukan pendakian gunung semeru, rencana semula waktu pendakian adalah akhir bulan september, namun setelah tarik ulur waktu serta berbagai kendala tak terduga akhirnya ditetapkan tanggal 06 September 2014.
Sabtu 04 Oktober 2014 gema Takbir Idul Adha menjadi saksi perjalanan kami, tepatnya pukul 20.00 WIB disaat masjid-masjid dan musholla mengumandangkan takbir hari raya Idul Adha kami berempat: Aku, sepupuku Opick, Mahmud dan Syarif memacu sepeda motor dari kota Kudus, belum sampai 100 meter melaju salah satu ban motor kami bocor, Akhirnya hampir satu jam waktu kami disita oleh tukang tambal ban. Kira-kira pukul 21.00 barulah kami benar-benar melaju meninggalkan kota Kretek, Satu setengah jam perjalanan kami singgah sejenak dikota Lasem untuk menikmati secangkir Kopi lelet setelah sebelumnya kami sempatkan Ziarah ke makam Sayyid Abdurrahman Basyaiban, waktu telah menunjukkan pukul 23.00 kembali kami memacu dua motor kami dan ketika sampai diperbatasan antara Kabupaten Tuban dan Lamongan kami luangkan sedikit waktu kami untuk Sowan ke makam Masyayikh Pon-Pes Langitan, dari Langitan kami menuju kota Malang kira-kira pukul 02.00 WIB, dan adzan Shubuh berkumandang saat kami sampai di daerah Sukorejo Pasuruan, setelah menunaikan kewajiban kami langsung meluncur menuju kota Malang.
Pagi yang cerah mengawali hari yang penuh berkah, dari pasuruan sampai masuk perbatasan kabupaten Malang pemandangan yang indah tersaji dari gunung arjuno dengan iringan lantunan takbir, tahmid dan tasbih Subhanallah.. begitu sampai di Arjosari kami mencari masjid untuk ikut larut dalam euphoria hari raya serta melaksanakan Shalat Idul Adha. Sontak para jama’ah banyak dibuat terheran-heran oleh penampilan kami yang memasuki halaman Masjid dengan mengenakan jaket, tas carrier dan aksesori khas para pendaki dan kami pun langsung menjadi pusat perhatian. Setelah melaksanakan Shalat Idul Adha dengan diikuti khotbah yang kami dengarkan dengan Khidmat, Khusyuk serta Ngantuk kami lanjutkan menuju desa Sudimoro, Bululawang untuk memenuhi hasrat untuk beristirahat, tanpa ba-bi-bu langsung kami menuju rumah Cak Roni, tak selang lama menunggu seteguk kopi dan sesuap nasi pun langsung menghampiri dan mengantarkan kami dalam tidur yang pulas pagi itu, Alhamdulillah…
Bangun, makan siang kemudian kami melanjutkan episode ngopi bareng cak Roni yang tadi sempat tertunda oleh jeda iklan bantal dan guling (baca:tidur). Setelah hari menjelang sore kami menuju Dampit tempat dimana rumah gus Opan berada dan disana juga tempatnya Pondok PUNOKAWAN, sebuah kafe kecil tempatnya para petualang berkumpul dan berbagi cerita.
Pukul 23.00 kami berkumpul di pondok PUNOKAWAN sambil menunggu yang lain untuk melengkapi persyaratan dan logistic yang harus kami bawa dan tentunya tak lupa mencicipi kopi ijo punokawan sambil Nyethe, setelah semua perlengkapan siap, mulai dari tenda, Sleeping bag, Pakaian hangat, matras de el el.. kami  bertujuh anggota PUNOKAWAN Adventure yang terdiri dari empat orang Demak dan tiga dari DampitMalang yaitu bang Ferry W Prastyo, mas Katon Eko S. dan Gus Opan 'Saufan Sauri' siap melakukan Trip on MAHAMERU dengan diawali Do’a bersama, Bismillah kami menuju Ranu pani..

Balai Besar TNBTS - Masih Terlalu pagi
Ranu Pani
Pukul 02.30 WIB kami sampai didesa Ranu pani yang merupakan desa terakhir sebelum track pendakian gunung semeru, dan kami langsung menuju sebuah pondokan yang berada disebelah jalur Ayak-ayak yang ternyata adalah tempat yang biasa digunakan untuk evakuasi para pendaki, 
Hemmm.. Merinding juga nih jadinya, untungnya kami tak diberitahu sebelumnya kalo tempat tidur kami biasa digunakan untuk evakuasi jenazah, setelah menyeduh pop mie,  menuang kopi dan energen kami bersembunyi dalam pelukan jaket dan Sleeping bag, hawa dingin ranu pani yang saat itu mendekati nol derajat masih dapat kami rasakan menusuk persendian meski kami telah terbungkus rapat didalam sleeping bag. Adzan subuh berkumandang dan kami pun satu persatu mulai bangkit dari tidur kami untuk menunaikan dua rakaat pagi itu, pukul tujuh kami menuju pos pendaftaran dan ternyata kami terlalu pagi, Akhirnya kami temukan warung ditepi Danau ranu pani lalu menikmati teh panas dan segelas kopi untuk sedikit mengurangi hawa dingin dan sambil menunggu Pos pendaftaran yang baru akan dibuka jam 08.00 WIB

Petualangan dimulai
Gus Opan-Mas Katon-Gus Opick (sesaat di Watu Rejeng)
Setelah mengurus Simaksi dan cek semua persyaratan serta pelengkapan kami start dari Ranu pani kira-kira pukul 08.30 WIB, dari gerbang pendakian sampai Landengan dowo medan tidak terlalu berat, karena meski terus nanjak namun agak landai, dan satu-satunya kendala hanya masalah jarak yang lumayan jauh yang kerap menghentikan perjalanan kami untuk sekedar stabilisasi diafragma karena sudah ngos-ngosan, setelah kira-kira 3 kilo meter sampailah kami dipos I Landengan dowo, disini kami bertemu dengan penduduk setempat yang menjajakan berbagai macam gorengan dan semangka. Meskipun semua gorengan sudah Nampak layu entah karena factor usia atau memang karena dinginnya hawa disana kami pun tetap lahap menyantapnya. 
Setelah dirasa cukup dan stamina mulai terkumpul kami lanjutkan perjalanan menuju pos II yang berada diantara Landengan dowo dan Watu Rejeng, dari sini kita dapat menikmati pemandangan watu rejeng yang sangat indah berupa bukit dengan bebatuan yang terjal dan curam.
Gus Opan: ........."istirahat sek bro..!! ambekan sek"..........
Dari pos II menuju pos III disinilah kewaspadaan pendaki benar-benar harus diperhatikan, selain jalur yang berupa jalan setapak dan mudah longsor jalur yang tepat berada dibawah watu rejeng ini juga tepat berada ditepi jurang, setelah kira-kira empat kilo meter berjalan naik turun menyusuri watu rejeng sampailah kami di pos III, disini kami beristirahat lumayan lama Karena tepat diatas pos III medannya sangat terjal dan berupa jalan berdebu yang selalu siap mengganggu mata dan hidung kita, setelah cukup lama berjalan dan berkali-kali istirahat ambil nafas, perlahan jalan terjal yang berselimut kabut mulai surut dan tanpa kami sadari kami telah berada diatas Danau Ranu Kumbolo. Di pos empat, rasa penat yang sedari tadi menggeliat perlahan mulai tersapu seiring kabut yang mulai surut saat menyaksikan keindahan sang Maha Agung yang terdampar disela-sela gunung, Maha suci engkau wahai pencipta semesta…

Ranu kumbolo
Begitu sampai di Ranu kumbolo kami mendirikan tenda dan nge-camp disana semalaman, sementara yang lain menikmati keindahan panorama dan masak mie instan serta menyeduh kopi, saya memilih untuk bersembunyi dibalik tenda dalam dekapan sleeping bag, karena selain kondisi yang kurang fit sejak berangkat dari kudus rasa lelah dan lapar memaksa tubuh ini terkapar lemas dan tepar, 
Meski diatas gunung yang namanya Shalat tetep wajib...
hari menjelang maghrib aku bangun kemudian mengelabuhi cacing perut dengan mie instan lalu shalat dhuhur jama’ dengan shalat Ashar ditepi ranu kumbolo, tak selang berapa lama hari mulai gelap pertanda malam segera datang dengan diawali maghrib menyambut, dan masih ditempat yang sama Shalat Maghrib dan Isya’ kami tunaikan dalam kemelut kabut, hawa dingin sungguh sangat terasa dimalam itu, kopi jahe yang kami buat sedikit mengurangi hawa dingin, dan ternyata hawa dingin disana cukup memudahkan kami untuk membuat agar-agar, begitu air dengan bubuk agar-agar mendidih kami tuang dalam gelas tupper ware kami tutup kemudian kami celupkan kedalam air ranu kumbolo dan seketika itu pula air mengental lalu berubah menjadi agar-agar kenyal. Acara “Kopi Gunung” kami lanjutkan kembali sebelum rintik-rintik hujan memaksa kami harus sembunyi dibalik tenda sampai fajar menyingsing.

tim PUNOKAWAN siap menggapai puncak Mahameru

Setelah Shubuh Chef Mahmud mulai masak untuk asupan energy sebelum berangkat menuju Kalimati, Mie instan dan Nasi Kriuk (baca : Setengah matang bukan Rice crispy ya..!! ) mengantarkan perjalanan kami untuk mendaki ‘Tanjakan Cinta’ dan menyusuri ‘Oro-oro ombo’ hingga cemoro kandang, dari cemoro kandang menuju ‘Jambangan’ disinilah banyak cerita tentang modus-modusan, apalagi gus Opan yang melihat raut wajah Opick yang mulai pucat, Hemm.. pasti langsung jadi kesempatan untuk minta break “…..opick lek koen wes pegel ojo dipekso..! istirahat ae.. mengko tak kancani….” Entah itu karena tingginya rasa Solidaritas atau hanya sekedar Modusitas untuk menutup-nutupi rasa capek Wallahu A’lam, yang jelas makin seru perjalanan kami kali ini, apalagi saat kami sampai dijambangan. Karena dari jambangan kita sudah dapat melihat dengan jelas sang ‘Mahameru’ yang berdiri kokoh menjulang menyapa langit.

to be Continue.. InsyaAllah
Our team : Huda Eljaqoly, Katon, Ovan, Ferry, Syarif, Mahmud dan Ofick - Pose di Kalimati

Kamis, 13 November 2014

Touring Bromo 2014



Sekilas tentang Gunung Bromo

Gunung bromo terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) atau berada di antara tiga kabupaten yaitu: Malang, Pasuruan dan Probolinggo.
Akses untuk bisa sampai ke gunung Bromo bisa ditempuh dari tiga kabupaten tersebut, dari jalur Malang bisa ditempuh dari daerah tumpang, untuk jalur Pasuruan dari daerah Tosari-Penanjakan dan untuk jalur Probolinggo bisa ditempuh dari daerah Tongas-Cemoro Lanang.
Penduduk asli pegunungan Bromo disebut suku tengger yang konon pada jaman dahulu kala ketika kerajaan majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah penduduk pribumi kebingungan untuk mencari tempat tinggal hingga pada akhirnya mereka terpisah menjadi 2 bagian yang pertama menuju ke gunung Bromo, kedua menuju Bali. Ke 2 tempat ini sampai sekarang mempunyai 2 kesamaan yaitu sama – sama menganut kepercayaan beragama Hindu. Disebut suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng juga Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger itu. “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger” dan Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai Gunung Brahma. orang Jawa kemudian menyebutnya Gunung Bromo.

Bromo dengan background gunung Semeru
 
Kudus-Bromo
Rencana touring Kudus-Bromo memang telah kami rencanakan jauh hari sebelum liburan Sekolah dan akhirnya pada tanggal 24 Juni 2014 baru terealisasi, tepatnya sehari setelah Ziarah+Rekreasi ke Pamijahan dan Jakarta. Rasa lelah setelah perjalanan selama empat hari belum sepenuhnya terobati dengan waktu istirahat yang lumayan singkat, kemudian kami berangkat untuk melanjutkan ziarah ke makam –makam Auliya di daerah jawa tengah dan jawa timur yang belum sempat kami ziarahi dengan berkendara sepeda motor yang kemudian kami teruskan ke Bromo.

Hari pertama
Tepatnya pukul 01.00 dinihari perjalan dimulai, Start dari kudus sepuluh anggota “TOUR de BROMO” yaitu : Inul, Ayus, Arul, Ryan, Ni’am, Arafat, Munif, Wafa, Mada dan tentunya Saya sendiri ‘Kang Miftah’ mengendarai lima sepeda motor beriringan hingga sampai ke Makam Mbah Sambu (Sayyid Abdurrahman Basyaiban) Lasem tepat pukul 02.30WIB. Setelah ziarah dan bertawassul ke makam Mbah Sambu dan para Masyayikh yang disemayamkan disekitar makam mbah sambu diantaranya adalah Kyainya para Kyai Yaitu simbah Kyai Ma’shum sampai kira-kira jam 04.00WIB kami melanjutkan perjalanan ke Kota Tuban dan Shalat Shubuh didaerah Jenu, lalu dilanjutkan dengan acara Ziarah ke Makam Sunan Bonang (Syeikh Makhdum Ibrahim) dan sejenak melepas penat yang menggeliat dimasjid Agung Tuban sampai kira-kira jam setengah delapan kami cabut dari Alun-alun Tuban menuju Paciran-Lamongan.

Masjid Agung Tuban-setelah ziarah Sunang Bonang
09.00WIB kami tiba didaerah Paciran Lamongan tepatnya di Makam Sunan Drajat (R. Qosim), Kami tidak Langsung Ziarah ke makam Beliau karena Cacing-cacing diperut Ni’am dan Riyan sudah mulai melakukan demo, ditambah lagi mata kami semua sudah mulai meredup hingga 2,5watt saja yang tersisa, mau tidak mau Kami harus memenuhi tuntutan-tuntutan cacing perut yang sudah mulai ribut, Sarapan itulah tuntutan mereka.. kenyang itu yang kami rasa, dan yang paling akrab dengan kenyang selain ngantuk adalah tidur, apalagi setelah  delapan jam perjalanan dan akhirnya diputuskan untuk memejamkamkan telinga, ups.. pejamkan mata maksudnya, hingga waktu dhuhur masuk satu persatu dari kami bangkit dari pusara masing-masing (hehee..)  Ziarah pun kami laksanakan dengan khidmat dan Khusyuk (atau mungkin ngantuk) dilanjutkan dengan shalat dhuhur+ dan kami pun siap kembali berpacu dari Lamongan menuju Kota Gresik. Menuju Makam Sunan Giri didaerah Kebomas Kota Gresik kami menempuh jalur Solokuro-Sukodadi dan begitu memasuki Kota Lamongan Kami terjebak dalam kemacetan yang lumayan padat merayap dan ada sedikit insiden yang membuat kami sempat melakukan senam jantung yaitu saat sepeda motor yang dikendarai Arul dan Riyan tergelincir diperlintasan kereta, namun Alhamdulillah tidak sampai terjadi apa yang tidak kami harapkan dan tiba dimakam Sunan Giri dengan selamat tepat pukul 16.00WIB, mengingat waktu yang sudah mulai menyambut petang Ziarah Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Ampel kami jamak dimakam Sunan Giri dan kira-kira pukul 17.15WIB kami berangkat menyusuri Surabaya-Sidoarjo-Pasuruan, dan begitu sampai di Pandaan kami memutuskan untuk mampir ke rumah neneknya Ainul yang berada di daerah Keraton Pasuruan sekalian cari makan GRATIS serta istirahat sejenak, tepat pukul 20.00WIB kami sampai dikediaman sang nenek dan dapat dipastikan teh hangat mengalir ditenggorokan kami dan Nasi pecel dengan telor ceplok kami sapu bersih karena semua pasti hafal diluar kepala dengan motto kami “Kebersihan Sebagian dari Iman”. (Hemmm.. jadi kelihatan nich kalo udah kenyang, dalilnya begitu lantang…) Penyakit Gawan Bayi (bawaan dari bayi) yang mengidap sebagian besar dari kami satu persatu mulai kambuh, begitu kenyang ngantuk pun datang. Dimulai dari Riyan yang terkapar diteras disusul Munif yang tak berdaya diatas Sofa dan akhirnya semua melayang meninggalkan Alam sadarnya hanya tersisa saya yang masih terjaga karena Asyik bercengkrama dengan Budhenya si Ainul, rencana semula kami akan bertolak dari pasuruan menuju Malang jam 23.00WIB namun lelah yang telah begitu dominan Akhirnya saya pun ikut menyusul ke alam mimpi dan begitu bangun ternyata waktu sudah menunjukkan 03.30 dinihari, dan kami baru ingat ternyata belum shalat Maghrib dan Isya’. Bergegas kami menunaikan Shalat setengah jam sebelum adzan Shubuh berkumandang.

Hari kedua
Selepas Shubuh seraya menunggu sarapan disiapkan kami bersiap-siap untuk kembali memacu Motor-motor kami menuju Bromo, Meskipun ini perjalananku menuju bromo untuk yang kedua kalinya namun lewat jalur pasuruan tetaplah kali pertama bagi saya, karena perjalanan yang pertama pada saat tahun baru 2012 via jalur malang-tumpang, jadi tiada sedikitpun rasa bosan hinggap walau sekejap dalam benakku. 

kawasan Tosari-Pasuruan
Dari Keraton tepat jam 06.00 kami melaju dengan kecepatan antara 60-70km/jam lewat Pasar dowo  dan tak kurang dari dua jam kami telah sampai di Tosari gerbang masuk TNBTS jalur Pasuruan, dan kami sedikit terkejut dengan tarif masuk yang lumayan Mahal, karena setahu saya tarif HTM taman Nasional Bromo Tengger Semeru tidak lebih dari Rp.10.000/Orang dan ternyata memang berlaku sejak 14 Februari 2014 HTM ke TNBTS naik menjadi Rp. 27.500/Orang dan motor Rp.5000/sekali masuk, jadi total biaya yang harus kami keluarkan untuk sepuluh orang dan lima sepeda motor harusnya Rp.300.000, namun untung ditengah perjalanan ada penduduk setempat yang berbaik hati mau menolong kami untuk bernegosiasi dengan penjaga pos pemantau dan kami disuruh mengaku keponakannya, dan setelah negosiasi yang lumayan lama kira-kira 10 menit akhirnya disepakati total HTM Rp.150.000, disepanjang perjalanan di Tosari sampai ke Penanjakan tiada henti-hentinya mata kami disuguhkan pemandangan yang membuat mata kami enggan untuk sekedar mengedipkan mata, udara yang begitu sejuk dan kanan kiri terlihat keindahan panorama yang membiaskan indahnya sang pencipta, awan yang bergulung laksana ombak seolah-olah nampak berada dibawah dibawah kami. Subhanallah.. Alhamdulillah.. Allahu akbar.. tiada henti-henti kami mengagumi dengan lantunan dzikir didalam hati, tepat dipersimpangan antara jalur menuju lautan pasir dan penanjakan kami berhenti untuk membeli kaos tangan karena hawa dingin mulai terasa menusuk hingga ke sum-sum tulang, dan pemandangan gunung bathok yang tepat berada disebelah kawah bromo mulai Nampak, dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan kami semua mengabadikan momen dengan view background Gunung bathok dan Bromo dan tampak berdiri kokoh dibelakangnya puncak tertinggi tanah jawa sang Mahameru.

Pose dulu di Penanjakan sebelum View Point
sebelum sampai di view point kami sejenak mampir di Mushala dengan taman yang begitu asri dan menyempatkan diri untuk ber-selfie dengan Background lautan awan yang sangat menawan dan pegunungan kota Batu dan Gunung Arjuno yang Nampak dari kejauhan, tak selang beberapa lama kami melanjutkan naik ke penanjakan tepatnya di view point, dan dari view point kami dapat memanjakan mata dengan eloknya pemandangan gunung-gunung yang mengelilingi lautan pasir, ditengah-tengah berdiri dengan sangat megahnya gunung bathok dan kawah bromo serta rumah-rumah yang Nampak berjajar rapi disekitar cemoro lanang. 

Mushalla Mandiri-sebelum View Point
Meskipun satu jam lebih kami berada di view point penanjakan belum juga kami terpuaskan akan keindahan alam yang tersajikan.

Suasana view point-Penanjakan
Keterbatasan waktu memaksa kami harus meninggalkan penanjakan sebelum terpuaskan untuk menuju ke kawah Bromo, turun menuju kawah bromo kami melintasi jalan beraspal yang sangat curam dengan kemiringan hampir mencapai 80 derajat, dan melintasi Lautan pasir yang kerap kali membuat ban motor kami slip dan hampir tergelincir, selama hampir 30 menit akhirnya kami sampai dikaki gunung bromo.
Kaki gunung Bromo dengan background view gunung Batok
Dikaki gunung Bromo kita dapat melihat parkiran Jeep yang berjejer dan persewaan kuda yang berada didekat Pura Luhur poten, setelah memarkir kendaraan selangkah demi selangkah kami menapaki anak tangga yang akan mengantarkan kami menuju kawah bromo, aroma kawah yang khas dengan belerangnya begitu menyengat rongga hidung, masker kembali terpasang dan sampailah kami diatas gunung bromo dan langsung menyaksikan kawah yang masih aktif dan terus mengeluarkan asap, cukup lama kami berada diatas puncak bromo untuk mengambil gambar dan kami sempat bertemu dengan turis dari Malaysia dan juga ada yang dari eropa.

Bersama Turis Malaysia dan Eropa
 
puncak Bromo
woiiiii pada liatin apaan tuh..?
 Setelah dirasa cukup puas kami turun lalu pulang menyusuri Lautan pasir, pasir berbisik dan bukit Savana yang banyak orang menyebut ‘Bukit Teletubbies’ karena memang bukit-bukit yang indah tersebut sangat mirip dengan background film anak-anak yang diperankan oleh Tinky winky, Dipsy, Lala dan Poo tersebut. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan semua hape kembali diaktifkan untuk pengambilan gambar dan tak ketinggalan pula inul dan niam berpose ala tinky-winky:“berpelukaaaaaaan….”
Terimalah cintaku mblo....!!! Hahaaa..

Waktu telah beranjak senja, memaksa kami harus segera mencari tempat untuk merebah dan bermanja, menghimpun kembali seluruh tenaga, dan akhirnya kami semua mampir ke salah satu teman didaerah Bululawang Malang sebelum akhirnya kami kembali ke kudus pada keesokan hari.

Savana-Teletubbies Hills


Hari ketiga
Sudimoro kecamatan Bululawang Kab. Malang tempat kami singgah dan menjajah rumah salah satu teman kami cak Roni, ruang tamu penuh dan kami melebar hingga ke teras, selepas makan malam kami kembali terbang dalam mimpi indah, tidur pulas karena dekapan rasa lelah, tiada kami hiraukan guyuran hujan yang mebuat kami basah, kami tetap lelap dalam mimpi malam itu. Hingga subuh datang dan masing-masing dari kami bangkit menunaikan ibadah.
Kopi mengawali cerita pagi ketiga, kemudian episode dilanjut dengan sarapan, sebelum kami melanjutkan perjalanan pulang. Tepat jam 09.30WIB kami beranjak menuju Kota batu dan singgah ke pemandian air hangat Cangar dan berada diperbatasan Malang-mojokerto hingga waktu menunjukkan pukul 16.00 kami lanjutkan menuju salah satu rumah teman kami Zufar yang berada di kota Lamongan, ditengah perjalanan masih disekitar Cangar Arafat yang waktu itu berboncengan dengan Ayus tiba-tiba nyungsep diantara semak-semak, dan untungnya tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang dan tidak jatuh ke aspal, sehingga tidak begitu parah dan Cuma lecet-lecet yang tidak begitu menghambat perjalanan kami menyusuri hutan-hutan daerah pacet Mojokerto hingga sampailah kami di Lamongan pukul 19.00 dan acara dilanjutkan dengan Halaqoh Qohwiyah di Langgar Panggung sampai pukul 22.00 dan dilanjutkan menuju Bojonegoro menghampiri Kahyangan Api untuk Acara Bakar-bakar Ayam yang sebelumnya sudah disiapkan oleh mbah Khotib. Dari kahyangan api kami kembali ke kediaman mbah Khotib sudah hampir subuh, dan setelah subuh kami tidur untuk memulihkan tenaga lalu Sarapan agak siang dan pamit menuju kudus melalui jalur Bojonegoro-jatirogo-Pamotan-Lasem dan sampailah kami dikudus sekitar pukul 13.30WIB. 



Terimakasih buat semua anggota team Dete on Vacations 2014
-          Mada (Demak)
-          Ayus (jepara)
-          Arul (Jepara)
-          Inul (Jepara)
-          Munif (Grobogan)
-          Riyan (Jepara)
-          Wafa (Kudus)
-          Ni’am (Demak)
-          Arafat (Pati)
Matur suwun juga buat
-          Cak Roni (Malang) atas penginapan, makan malam dan sarapan gratisnya
-          Mbah Khotib (Bojonegoro) atas bakar ayam di kahyangan apinya. dan Zufar atas Kopi panggungnya.